Minggu, 02 Oktober 2011

Luka

Tahukah kau? Lukaku hanya luka lama
Tapi masih saja menganga
Piluku hasil dari wajah lama
Wajah lama tlah ingkarkan janjinya
Menembus hati hingga terasa abadi
Dan kau,wajah baruku tak perlu jadi obatku
Walaupun kau beri aku beribu-ribu bunga aku tetap sama
Menjadi jiwa-jiwa yang merana
Nyanyian burung yang kau berikan menjadikan aku tetap sama
Jiwaku tak sebanding jiwamu yang kokoh
Jiwamu terbentuk oleh penderitaan yang bertubi
Hingga wajah barumu menampilkan perkasaan
Dan aku dulu adalah jiwa yang penuh cinta
Hidup dipenuhi cinta buatku larut di dalamnya
Dan ketika jiwaku tertancap duri
Aku benar-benar kering,merana tiada arti

Sebuah altar

Telah disatukan jiwa kita disini
Di sebuah altar teduh tanpa bunga
Biarkan iringan burung gereja yang mengiringinya
Kita sudah damai disini,tak perlu warna-warni disekitar kita
Jiwa kita yang hanya dikelilingi sebuah kesedihan
Kini tergantikan oleh kedamaian
Damai karna kita tlah disatukan di altar
Berjubahkan kain putih yang suci
Biarkan para orang tua menyesali keegoisannya
Biarkan tangis mereka mengantarkan kita
Altar yang suci ini menjadi saksi kegigihan kita

Kenangan Buat Istriku


Umurku makin dekat dengan Tuhan
Itu yang akhir-akhir ini kurasa
Aku jadi bayi bagimu
Disuapi,dimandikan itu hari-hari terakhir  aku bersamamu
Tua itu tak perlu ditutupi,karna hukum alam akan slalu berlaku
Biarkan kerut-kerut itu tumbuh di wajah kita
Karna seharusnya kita harus berbenah tentang perilaku kita
Jika kita tua tak perlu mengeluh
Tengoklah masa dimana kita kuat perkasa
Dimana hari-hari itu kita semangat persiapkan masa depan kita
Suka,duka,senang dan susah adalah hal yang biasa
Semua itu hanyalah sebuah proses,agar kita lebih bijak
Tuhan tidak pernah marah kala kita salah
Karna Tuhan hanya ingin kita belajar dari hidup
Dengarlah istriku! Betapa Tuhan itu slalu mengasihi kita
Tua renta,tetap saja Tuhan sayang
Sepenggal hidup kita lalui dengan perkasa,
Dan sepenggal lagi harus kita lalui dengan berserah diri
Sudahlah istriku! Penyakit tuaku tlah pergi
Ikhlaskan aku menuju hidup yang abadi!
Dan kenangan-kenangan itu kan menemanimu

Sebuah harap

Setiap aku berdiri di ruanganmu
Aku penuh harap
Harapanku masih seperti dulu,
Saat pertama gedung ini kokoh berdiri
Gedung yang makin rapuh dimakan usia
Pada meja-meja dan kursi tua jadi saksi harapanku
Pada setiap tetesan tinta kuukirkan harapanku padamu
Harapan seorang guru pada muridnya
Hanyalah harapan yang sederhana
Tapi kuharap bermakna
Sadarlah anak-anakku
Masa depan yang kau pikul itu berat
Ketika orang-orang berlomba demi merengkuh masa depan
Kerasnya hidup sekeras batu yang menghadang
Dengan apa akan kau sambut masa depanmu anakku?
Dengan setitk ilmu itu bekalmu
Kelak kau akan berdiri sendiri,menyongsong harimu
Harapan orang tuamu ada di ruangan ini
Siapkan dirimu anakku ,dengan ilmu itu bekalmu

Bulan yang muram

Bulan muram melihat dunia hari ini
Dilihatnya sebuah negara kaya raya
Rakyatnya tak satupun jadi pengemis jalanan
Gak ada yang miskin semua kaya
Tapi,mereka miskin budi dan perilaku
Dilihatnya suatu negeri yang lain
Konon negeri itu kaya
Setiap apa yang ditanam,pasti tumbuh
Setiap apa yang diambil bisa tuk makan
Dari lautan sampai daratan semua tak ternilai
Tapi mengapa bulan masih muram
Masih saja cadar hitam menutupinya
Oh! Ternyata ia mengintip dari sudut ruangan yang lain
Ia melihat seorang anak bertelanjang dada
Tulang-tulangnya terlihat jelas dengan tatapan penuh harap
Disampinya terlihat lelaki tua yang mengendu-endus nafasnya
Tanpa selimut ,hanya dengan sepotong roti yang basi
Lalu disampingnya seorang ibu menggendong anaknya
Memberikan sisa-sisa “asi” di dadanya
Anaknya masih meronta karna asi nya kering
Ibunya tak berdaya,seharian tak ada sesuap nasi di mulutnya

Anak yatim piatu

Anak itu yatim
Sejak pertama matanya terbuka melihat dunia
Tangisnya,tangis tanda tanya bagi kami
Tangis senang atau duka melihat dunia
Atau tangisan karna bapaknya tiada
Ada yang lahir ada yang mati, itu hukum alam
Ada yang datang,ada yang pergi
Anak yatim itu mengenal dunia lewat kasih ibunya
Ia lalui hidup tanpa bapak disisinya
Mulutnya gagap tuk kata “bapak”
Baginya bapaknya di langit,berteman bidadari dan indahnya surgawi
Hari ini genap sudah lima tahun umurnya
Ibunya meninggal tadi malam
Yatim piatu orang-orang menyebutnya
Ia sendiri tanpa pesan atau warisan
Hanya senyum ibunya yang terkenang
Orang datang berkabung,sambil mengurai kesedihan
Meyaksikan duka yang tak pernah usai
Luka anak itu luka bagi semuanya
Namun aku heran dengan orang-orang
Tak satupun datang menawarkan selimut kasih sayang
Mereka berucap “kasihan anak sekecil dia”